Senin, 19 Mei 2014

PENILAIAN TINDAKAN KELAS



BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam sangat penting diberikan karena mempunyai peran yang sangat penting  dalam membekali siswa siswi untuk menyongsong masa depan menuju kepada suatu persaingan, tantangan dan perubahan zaman. Pendidikan Agama Islam diberikan dalam rangka untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Dalam meningkatkan Pendidikan Agama Islam khususnya dalam pada materi Iman kepada allah melalui pemahaman asmaul husna pada kurikulum 2013 diperlukan metode dan cara yang tepat. yang sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang intinya adalah pembentukan watak, pembentukan pengetahuan, dan terbentuknya keterampilan peserta didik serta tetap mengacu pada peningkatan kualitas pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya

.
1

Untuk dapat terciptanya pendidikan yang berkualitas sangat ditentukan dengan adanya dukungan dari beberapa faktor seperti: Guru aktif, Siswa aktif, dan sumber belajar yang memadai, guru sebagai tenaga pendidik memegang peranan penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Guru yang baik adalah guru yang kompeten yang secara profesional senantiasa meningkatkan  kompetensi pedagogik.
Namun pada kenyataaannya akhir – akhir ini kondisi dalam pembelajaran agama Islam terutama pada bidang Iman kepada Allah melalui “asmaul husna”,  pemahaman siswa untuk belajar sangat  rendah.  Hal ini tampak pada  hasil belajar siswa pada materi asmaul husn
Ketika mendengar kata inovasi,  maka yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Oleh sebab itu  Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang baru ataupun lainya  dari biasanya, Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan seseorang yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, untuk  maju dan berprestasi dan tak kalah pentingnya dengan munculnya kurikulum 2013 seorang guru  harus memiliki kepekaan  dan keprofesionalan dalam memahami materi pembelajaran khususnya pada materi pembelajaran agama Islam.
Sering terjadi, penggunaan metode hanya monoton sehingga menyebabkan suasana belajar yang kurang menyenangkan apalagi  pembelajaran dilaksanakan pada jam terakhir maka pembelajaran kurang  kondusif, seorang guru diharapkan memiliki mengetahuan metodeyang tepat dan mengkemas proses belajar mengajar yang menyenangkan. Proses belajar mengajar dan program pendidikan yang sudah terencana, baik perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap. Proses belajar mengajar di sekolah atau di lembaga formal sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Lingkungan belajar tersebut antara lain meliputi: siswa, guru, karyawan sekolah, bahan atau meteri pelajaran (buku paket, majalah, makalah dan sebagainya), sumber belajar lain yang mendukung dan fasilitas belajar (laboratorium, pusat sumber belajar, perpustakaan yang lengkap dan sebagainya).
Seiring dengan  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan yang  mendorong guru untuk mengadakan upaya pembaharuan dalam proses belajar dan memanfaatkan hasil-hasil teknologi. Guru dituntut untuk mampu menggunakan alat-alat yang bisa memudahkannya dalam menjalankan proses belajar mengajar dan memudahkan siswa dalam belajar, baik alat bantu yang sesuai dengan perkembangan zaman seperti komputer, slide dan sebagainya. Ataupun alat bantu mengajar yang sederhana, murah dan efisien seperti kartu, gambar, grafik, dan bagan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, di samping guru dituntut mampu menggunakan alat-alat tersebut, guru juga dituntut untuk mampu mengembangkan media pembelajaran yang akan digunakan tetapi tersedia, karena media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pembelajaran.[1]


Dengan penggunaan media maka peserta didik akan merasa betah dan mengasyikkan di kelas, sehingga rasa jenuh dan  bosan  bisa teratasi. Salah satu media yang murah, efisien dan mudah didapatkan adalah media pembelajaran power point.  Media ini akan meningkatkan  kemampuan hasil belajar  siswa dalam memahami pelajaran. Berdasarkan paparan di atas bahwa proses belajar mengajar sebaiknya menggunakan media pembelajaran untuk meningkatkankan siswa dalam memahami materi khususnya pada mata pelajaran Agama islam, maka kami terdorong untuk membuat suatu media pembelalajaran tentang. ”Penerapan Model  Pembelajaran  Inquiry   Berbantuan Media Power  Point  Macro  Enabled  Untuk Meningkatkan  Hasil  Belajar  Iman  Kepada  Allah  Pada  Siswa  Kelas  X SMA Negeri  2 Amlapura Tahun  Pelajaran  2013 / 2014

1.2          Rumusan Masalah
Siswa kelas X SMAN2 Amlapura semestinya sudah memiliki kemampuan memahami iman kepada Allah dengan baik. Namun, kenyataannya mereka belum memiliki hasil nilai mencapai ketuntasan  yang maksimal.
Agar kemampuan belajar asmaul husna pada siswa kelas XI SMA 2 Amlapura dapat ditingkatkan, maka penulis  menggunakan dan melatihkan pembelajaran Agama Islam menggunakan media pembelajaran power point pada program  Macro Enabled  :
1.        Apakah dengan penggunaan media Power  Point Macro Enabled pada siswa kelas X SMAN 2 Amlapura  hasil belajar  dapat ditingkatkan?
2.        Langkah – langkah bagaimanakah dalam penggunaan Media Power Point Macro Enabled yang dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas X SMAN 2 Amlapura?

1.3         Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai :
1.        Untuk mengetahui  penggunaan Media Power  Point Macro Enabled  dalam peningkatan hasil belajar  siswa kelas X SMAN 2 Amlapura;
2.        Untuk mengetahui langkah-langkah yang yang dilakukan dalam penggunaan Media Power Point Macro Enable dalam meningkatkan hasil belajar  pada siswa kelas X SMAN 2 Amlapura

1.4         Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh  :
A.      Bagi guru
1.         Hasil dari media dapat digunakan secara langsung oleh guru pendidikan Agama Islam dalam mengajarkan pembelajaran Asmaul Husna . Sumbangan tersebut merupakan tindakan alternatif yang dapat diambil di dalam mengajarkan materi iman kepada Allah di SMA;
2.         Hasil pembuatan media ini akan merupakan masukan yang cukup berharga bagi penyempurnaan pembelajaran Agama Islam;
3.         Hasil pembutana media akan  bermanfaat juga bagi rekan-rekan guru khususnya guru Agama Islam karena dapat diterapkan langsung baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
B.       Bagi Siswa
1           Mempermudah proses belajar mengajar;.
2           Menambah pengalaman belajar serta dapat mengembangkan kompetensi pembelajaran Agama Islam;
3           Hasil pembutan media ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi siswa untuk belajar  sehingga minat belajar agama islam khususnya pada materi Asmaul Husna  dapat ditingkatkan.



BAB II

LANDASAN TEORI

2.1   Pengertian Media pembelajaran
1.        Pengertian Media Pengajaran
Media berasal dari bahasa latin medium yang berarti perantara. Media juga disebut sebagai alat peraga, audio visual, instruksional material atau sekarang ini media lebih dikenal dengan media pembelajaran atau media instruksional. Media pengajaran menurut Hamalik adalah alat, metode dan tehnik yang digunakan dalam rangka mengaktifkan komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar disekolah.
Beberapa pakar teknologi pengajaran, banyak memberikan batasan definisi tentang media pengajaran, diantaranya:
a.    Menurut AECT (Association of Education end Communication Tecnonology)  memberi batasan mengenai media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi;
b.    Menurut NEA (National Education Assocation) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Dan hendakanya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan dibaca;
c.    Gagne menyatakan bahwa, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar;
d.   Briggs berpendapat, media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, misalnya buku, film bingkai, kaset dan lain-lain.[2]
e.    Perkembangan selanjutnya Martin dan Briggs (1986) memberikan batasan mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa.
Kesimpulan dari berbagai pendapat di atas adalah:
a.    Media adalah wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada penerima pesan tersebut;
b.    Bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan instruksional;
c.    Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada penerima pesan (anak didik);                   
Berdasarkan beberapa batasan tentang media pengajaran, maka dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung dalam media pengajaran, antara lain:
a.    Media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panca indera;
b.    Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal sebagai soft ware (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang meupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa;
c.    Penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.
d.   Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik dalam kelas maupun di luar kelas;
e.    Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar;
f.     Media pembelajaran dapat digunakan secara massa (misalnya: radio, televisi) kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: slide, film, video,OHP) atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio, tape/kaset video recorder);
g.    Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan suatu ilmu.[3]
Jadi dari batasan-batasan dan ciri-ciri umum di atas media pengajaran berupa hard ware dan soft ware dan bisa dilihat serta didengar dan juga bisa membantu guru untuk memperlancar dalam proses belajar mengajar sehingga terjadi komunikasi dan interaksi edukatif. Dan membantu meningkatkan siswa dalam memahami pesan yang disampaikan oleh guru.
Media terbagi atas tiga macam, antara lain: audio, visual, audio-visual. Media kartu termasuk media visual seperti materi-materi lain yang dapat dilihat. Media Short Carrd termasuk salah satu media sederhana yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar, terutama belajar asmaul husna. Dimana dengan adanya  media ini  yang  dikemas dengan adanya belajar kelompok yang dikemas dengan cara bermain dan membuat tulisan  kaligrafi  atau tulisan – tulisan yang  akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Pada penggunaan media kartu, kita mengenal beberapa istilah seperti shortcard atau model kartu lain yang populer yaitu flashcards sebagai kartu yang berisikan gambar, kata, dan lain-lain. Kartu ini dikenal dengan nama flash yang berarti secepat kilat, karena penggunaan kartu ini adalah dengan cara memperlihatkan apa yang ada diatas kartu dengan cepat (flash).
2.        Jenis-jenis Media Pengajaran
Ada beberapa jenis media pengajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, antara lain :
a.         Media Visual
1)      Short Card (Media kartu)
Media kartu atau short card adalah media visual. Dalam media ini, pesan yang akan disampaikan dapat dituangkan dalam bentuk simbol dan kata. Oleh karena itu simbol-simbol dan kata yang digunakan perlu difahami benar artinya, agar dalam penyampaian materi dalam proses belajar mengajar dapat berhasil secara efektif dan efisien.
Short card  berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan apabila tidak visualkan, misalnya: tentang konsep rukun Islam, pelaksanaan shalat atau tentang konsep sifat wajib, mustahil bagi Allah, dan konsep lainnya.
Short card atau media kartu selain sederhana dan mudah pembuatannya, media kartu juga termasuk media yang relatif murah ditinjau dari segi biayanya.

2)      Gambar/Foto
Media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Gambar/Foto merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Sebagaimana pepatah Cina mengatakan “sebuah gambar berbicara lebih banyak daripada seribu bahasa”. Dalam penggunaan media pembelajaran ini, gambarnya harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
3)      Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal dapat diajar menggambar, maka setiap guru yang baik haruslah dapat menuangkan ide-idenya dalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian siswa, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan karena media dibuat guru langsung.
4)      Diagram
Diagram adalah suatu gambar sederhana yang dirancang untuk menggambarkan hubungan timbal balik, yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol. Diagram biasanya menggambarkan struktur dari obyeknya secara garis besar, menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada di situ.
5)      Bagan
Bagan seperti halnya media yang lain yaitu termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Pesan yang disampaikan biasanya berupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan atau hubungan-hubungan penting.
6)      Grafik
Grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, grafis atau gambar. Untuk melengkapinya seringkali simbol-simbol verbal digunakan pula di situ. Fungsinya adalah untuk menggambarkan data secara kuantitatif dan teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
7)      Kartun
Kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi visual, yaitu suatu gambar interpretatife yang digunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang situasi, atau kejadian-kejadian tertentu. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian, mempengaruhi sikap atau tingkah laku. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana, tanpa detail menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dipahami dengan cepat.[4]


b.        Media Audio
Media audio berbeda dengan media visual, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media audio, antara lain:
1)        Radio
Radio adalah media audio yang programnya dapat direkam dan diputar sesuka kita. Media ini relatif murah dan variasi progamnya lebih banyak dan bisa dipindah-pindah dan dapat digunakan bersama-sama.
2)        Alat Perekam Pita Magnetic (tape recorder)
Alat perekam pita magnetic atau tape recorder adalah salah satu media pembelajaran yang tidak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.
3)        Laboratorium Bahasa
Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media ini yang dipakai adalah alat perkam.[5]
c.         Media Proyeksi Diam
Media proyeksi diam (still proyektif medium) mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Untuk itu bahan-bahan  grafis banyak sekali dipakai dalam media proyeksi diam. Perbedaan antara media grafis dan proyeksi diam, yaitu pada media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media bersangkutan, pada media proyeksi  diam pesan yang terkandung di dalamnya harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran.[6] Dalam proyeksi diam ini semua menggunakan transparan yang kemudian diproyeksikan menggunakan proyektor.
3.        Kriteria Pemilihan Media Pengajaran
Dalam memilih media pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.         Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruktional yang telah ditetapkan;
b.         Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah difahami;
c.         Kemudahan memperoleh media, media yang diperlukan mudah diperoleh, setidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar;
d.        Keterampilan guru dalam menggunakannya, guru mampu menggunakannya, dengan baik dalam proses belajar mengajar.;
e.         Tersedia waktu untuk menggunakannya;
f.          Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media pembelajaran sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat difahami oleh siswa.[7]
Dengan kriteria pemilihan media di atas, guru akan lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu dalam proses belajar mengajar sehingga dengan adanya media yang tepat dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan efektif dan efisien.
4.        Fungsi dan Manfaat Media Pengajaran
Secara umum media pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.    Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas, sehingga meningkatkan siswa dalam memahami pesan tersebut;
b.    Mengatasi keterbatasan ruang waktu dan daya indera;
c.    Menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar;
d.   Menimbulkan gairah belajar pada siswa;
e.    Memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan;
f.     Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya;
g.    Mempersamakan pengalaman dan persepsi antar siswa dalam menerima pesan.[8] 
Berdasarkan batasan-batasan mengenai batasan media di atas, maka dapat dikatakan bahwa media pengajaran sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pendidikan dari pengirim pesan atau guru kepada penerima pesan  (siswa) dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar yang meningkatkan siswa dalam memahami pesan.
Menurut Oemar Hamalik, manfaat dari penggunaan media dalam proses belajar mengajar adalah:
a.    Meletakkan dasar-dasar yang konkret dalam berfikir dan mengurangi verbalisme;
b.    Memperbesar perhatian siswa dalam proses belajar mengajar;
c.    Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan proses belajar mengajar dan membuat pelajaran yang mantap;
d.   Menumbuhkan pemikiran yang teratur, lentur dan kontinue terutama melalui gambar hidup membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahas;
e.    Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.[9]

2.2.  Microsoft Power Point
Microsoft Power Point merupakan sebuah software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft, dan merupakan salah satu program berbasis multi media. Didalam komputer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program Microsoft Office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi, baik yang diselenggarakan oleh perusahaan, pemerintahan, pendidikan, maupun perorangan, dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik. Maka  yang penulis dimaksud Media power point ini yaitu  media merupakan sarana atau alat terjadinya proses belajar mengajar Media instruksional yaitu segala sesuatu yang dapat dipakai untuk memberikan rangsangan sehingga terjadi interaksi belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan instruksional tertentu
Power point presentation  yaitu :
a)         SISTEM INSTRUKSIONAL; Menentukan Bahan Pelajaran Merumuskan Tujuan Menentukan Prasyarat Kemampuan Menentukan Strategi Pengajaran Mengorganisir Kelompok Alokasi Waktu Lokasi Ruang Memilih Sumber Daya Penilaian Hasil Penampilan
b)        MEDIA TRANSFER INFORMASI; Merupakan alat yang dapat digunakan untuk menyajikan/menyampaikan informasi kepada pihak lain (peserta/penerima informasi)
c)         PERANAN MEDIA; Menghindari terjadinya verbalisme Membangkitkan minat / motivasi Menarik perhatian peserta Mengatasi keterbatasan ruang,waktu dan ukuran Mengaktifkan peserta dalam kegiatan belajar Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar Menambah pengertian nyata suatu informasi
2.3.  Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri atas dua kata yaitu “ hasil “ dan “ belajar “ yang memiliki arti yang berbeda. Oleh karena itu untuk memahami lebih mendalam mengenai makna hasil belajar, akan dibahas dulu pengertian “ hasil “ dan “ belajar”.
Menurut Djamarah[10] hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok. Hasil tidak akan pernah dihasilkan selama orang tidak melakukan sesuatu. Untuk menghasilkan sebuah prestasi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar. Hanya dengan keuletan, sungguh–sungguh, kemauan yang tinggi dan rasa optimisme dirilah yang mampu untuk mancapainya.
Sementara itu, Arikunto[11]  mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diaamati,dan dapat diukur”. Nasution  mengemukakan bahwa hasil adalah suatu perubahan pada diri individu. Perubahan yang dimaksud tidak halnya perubahan pengetahuan, tetapi juga meliputi perubahan kecakapan, sikap, pengrtian, dan penghargaan diri pada individu tersebut.
Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukan hasil yang berciri sebagai berikut:
1.    Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa;
2.    Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya;
3.    Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya seperti akan tahan lama diingatannya, membentuk prilakunya, bemanfat untuk mempelajarai aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang lainya;
4.    Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengerndalikan dirinya terutaman adalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya;
      Hasil belajar adalam kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Individu yang belajar akan memperoleh hasil dari apa yang telah dipelajari selama proses belajar itu. Hasil belajar yaitu suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan hanya perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan, kebiasaan, pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri seseorang yang belajar.
Menurut Piaget[12], tokoh psikologi perkembangan dan sekaligus tokoh konstruktivisme menyatakan bahwa anak-anak yang berusia sekitar 10 tahun baru mampu berpikir kongrit, belum mampu berpikir abstrak, sehingga layanan pendidikan bagi peserta didik di kelas awal (kelas 1, 2, 3)  harus mempertimbangkan faktor tersebut sebagai dasar untuk menguasai kompetensi dasar di kelas selanjutnya, yang sudah menggunakan berpikir abstrak.
Konstruktivisme merupakan sebuah pendekatan dalam pembelajaran berdasarkan keyakinan bahwa belajar merupakan hasil dari pembentukan (konstruksi) pengetahuan yang berlangsung dalam otak dengan cara membangun aturan-aturan dan model-model mental, yang bersifat individual, untuk memahami pengalaman-pengalamannya. Selanjutnya, belajar merupakan proses penyesuaian dari model-model mental untuk mengakomodasi pengalaman baru.[13]
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas awal guru perlu memperhatikan lima tahap kegitan dalam proses pembelajaran  yaitu engage (pelibatan), explore (eksplorasi), explain (penjelasan), elaborate (elaborasi), dan evaluate (evaluasi).[14]            
1.         Pelibatan (to engage)
Pada tahap ini siswa menghadapi dan mengidentifikasi tugas-tugas pembelajaran. Mereka mengaitkan pengalaman belajar yang sudah dilakukannya dengan pengetahuan dan pengalaman belajar saat ini. Contoh: selama ini siswa melihat orang yang melaksanakan shalat, zakat, puasa dan melaksanakan ibadah haji baik secara langsung di masyarakat maupun di media seperti televisi, namun mereka belum paham apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut sebagai sebuah kewajiban atau hanya pekerjaan biasa. Disinilah diperlukan pemberian pemahamn sehingga siswa tahu fenomena apa yang mereka lihat. Mengingat proses pembelajaran siswa tersebut maka peran guru pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a.    Merencanakan kegiatan-kegiatan secara terorganisir;
b.    Mendorong siswa untuk menafsirkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman;
c.    Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang kemampuan berfikir anak;
d.   Menciptakan situasi problematic;
e.    Memfokuskan siswa terhadap tugas-tugas instruksional;
2.         Eksplorasi (to explore)
Pada tahap ini siswa terlibat dengan benda-benda (materials) dan gejala (phenomena) sehingga mereka mempunyai pengalaman yang bersifat mendasar dan langsung, khususnya pengalaman yang berkenaan dengan gejala (phenomena). Contoh:
Didalam syariat Islam diajarkan bahwa sebelum shalat diwajibkan utuk berwudlu, oleh karena itu maka di dalam pelajaran sholat anak dibiasakan untuk berwudlu dan diperaktikkan langsung, sebaiknya siswa dibawa ketempat wudlu agar mendapatkan pengalaman secara langsung.
Pada tahap ini, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok sehingga mereka memiliki pengalaman yang akan menjadi dasar dalam proses berbagi pengalaman dan berkomunikasi. Selain itu siswa:
a.    Menggunakan penyelidikan untuk mencari dan menyelidiki;
b.    untuk memuaskan keinginan tahuannya tentang konsep/topik yang dipilih;
c.    Berpikir dengan bebas tetapi masih dalam batas kegiatan;
d.   Mengetes prediksi dan hipotesa;
e.    Membentuk prediksi dan hipotesa baru;
f.     Mencoba dengan alternatif dan diskusi dengan yang lain;
g.    Mencatat pengamatan dan ide-ide;
h.    Menggantungkan keputusan-keputusan;
Berdasarkan pada tahap pembelajaran ini maka sebaiknya guru bertindak sebagai fasilitator, menyediakan bahan-bahan belajar yang diperlukan, dan membimbing siswa untuk memusatkan perhatiannya dalam kegiatan. Guru membantu siswa melaksanakan proses penyelidikan (inquiri). Selain itu guru:
a.    Menganjurkan siswa bekerjasama minimal dengan supervisi;
b.    Mengamati dan mendengarkan siswa;
c.    Menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan penyelidikan secara tidak langsung ketika dibutuhkan;
d.   Meluangkan waktu pada siswa apabila dalam bekerja menghadapi permasalahan;
e.    Bertindak sebagai fasilitator;
3.         Penjelasan (to explain)
Pada tahap ini siswa mulai mendapat pengalaman menyusun ringkasan dalam bentuk yang komunikatif. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat menimbulkan motivasi untuk menulis urutan-urutan kejadian dalam satu tata urutan yang logis. Komunikasi akan tampak diantara siswa dan guru. Siswa bekerja dalam kelompok, dengan demikian setiap siswa dapat menyampaikan dukungan atau penolakan terhadap pendapat siswa lain pada saat ia menyampaikan hasil observasi, pendapat, pertanyaan, dan hipotesanya. Bahasa digunakan sebagai alat untuk menyusun label-label yang komunikatif ketika anak menyusun ringkasan akan memberikan makna ketika siswa saling berbagi pada saat penyusunan abstrak tersebut.
Mengingat tahapan pembelajaran siswa tersebut maka peran guru pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a.         Memberi penjelasan terhadap penemuan dan kejadian-kejadian yang dialami siswa, dengan menggunakan nama-nama/kata-kata yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat historis dan bahasa yang standard. Contoh: seorang siswa ketika melaksanakan sholat harus melaksanakan sujud maka guru dapat menjelaskan bahwa itu sebagai bentuk penyembahan dan penyerahan diri seorang Muslim kepada Tuhannya;
b.        Memperkenalkan label pada anak akan lebih bermakna setelah anak memiliki pengalaman langsung daripada sebelum anak memilikinya. Pada tahap ini guru dapat menentukan tingkat pemahaman siswa dan kesalahpahaman yang terjadi pada siswa. Menulis, menggambar, merekam dengan video adalah bentuk-bentuk komunikasi yang dapat merekam perkembangan anak, kemajuan dan pertumbuhannya.
4.         Mengelaborasi (to elaborate)
Pada tahap ini siswa menggunakan konsep yang telah dipelajari, menghubungkannya dengan konsep yang lain dan mengaplikasikan pemahaman tersebut ke dalam lingkungannya. Penerapan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: (i) dimana orang muslim melaksanakan shalat.
Berdasar tahap pembelajaran siswa tersebut maka peran guru adalah memberi penugasan kepada anak untuk melaksanakan shalat di Masjid.
5.         Menilai (to evaluate)
Tahap ini merupakan proses diagnostik sehingga pada tahap ini guru dapat nenentukan apakah siswa telah memperoleh pemahaman tentang konsep dan pengetahuan yang seharusnya dimiliki. Evaluasi dan penilaian dapat dilakukan sepanjang proses pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa.

2.4.  Model Mengajar
2.4.1        Model Inqiury/Discovery atau Model Personal
A.       Pengertian
Menurut Nanang Hanafiah dalam sebuah bukunya yang berjudul Konsep Sterategi Pembelajaran menjelaskan bahwa discovery dan Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat memenemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.
Sedangkan menurut H. Syaiful Sagala dalam bukunya “ Konsef dan Makna Menbelajaran” menjelaskan bahwa pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menetapkan diri  sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian, siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru. Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah, pendekatan ini menempatkan siswt lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan ; guru dalam pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator ; belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkaii kepada kelas untuk dipecahkan oleh siswa sendiri.
   Tugas berikutnya dari guru adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka pemecahan masalah. Sudah barang tentu bimbingan dan pengawasan dari guru masih tetap diperlukan, namun campur tangan atau intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi. Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan moderen, yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila pendekatan ini digunakan. Pendekatan inquiry dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat berikut: (1) guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa; (2) guru harus terampil menumbuhkan motivasi-belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan; (3) adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup; (4) adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi; (5) partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar; dan (6) guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
Ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inquiry/ discovery yakni: (1) perumusan masalah untuk dipecahkan siswa; (2) menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis; (3) siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/hipotesis; (4) menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi; dan (5) mengaplikasikan kesimpulan/ generalisasi dalam situasi baru. Metode mengajar yang biasa digunakan guru dalam pendekatan ini antara lain metode diskusi dan pemberian tugas, diskusi untuk memecahkan permasalahan dilakukan oleh sekelompok kecil siswa antara tiga sampai lima orang dengan arahan dan bimbingan guru.
Kegiatan ini dilaksanakan pada saat tatap muka atau pada saat kegiatan terjadual. Dengan demikian dalam pendekatan inquiry/ discovery model komunikasi yang digunakan, bukan komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi, tetapi komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai peran aksi. Studi dan penelitian terhadap kedua pendekatan ini telah banyak dilakukan. Berbagai studi tersebut antara lain menyimpulkan bahwa pendekatan ekspositori dan inquiry tidak berbeda efektifnya dalam mencapai hasil belajar yang bersifat informasi, fakta dan konsep, tetapi berbeda secara signifikan dalam mencapai keterampilan berpikir, pendekatan inquiry lebih efektif dari pendekatan ekspositori.
Pendekatan inquiry/discovery dalam pembelajaran dapat lebih membiasakan kepada anak untuk membuktikan sesuatu mengenai materi pelajaran yang sudah dipelajari. Membuktikan dengan melakukan penyelidikan sendiri oleh siswa dibimbing oleh guru, penyelidikan itu dilakukan oleh para siswa baik dilapangan seperti laboratorium, situs purbakala, hewan yang berkeliaran sesuai mata ajar yang dipelajari di sekolah. Setelah diselidiki melalui tempat-tempat tersebut kemudian dianalisis oleh para siswa bersama guru menggunakan buku-buku referensi, ensiklopedia, kamus dan lainnya.











BAB III
Media Pembelajaran

3.1.       Judul Media Pembelajaran
  “ Media Pembelajaran Power Point Macro Enabled “

3.2.       Media Pembelajaran power point
Beberapa hal yang menjadikan media ini menarik untuk digunakan sebagai alat presentasi adalah berbagai kemampuan pengolahan teks, warna, dan gambar, serta animasi-animasi yang bisa diolah sendiri sesuai kreatifitas penggunaannya. Pada prinsipnya program ini terdiri dari beberapa unsur rupa, dan pengontolan operasionalnya. Unsur rupa yang dimaksud, terdiri dari slide, teks, gambar dan bidang-bidang warna yang dapat dikombinasikan dengan latar belakang yang telah tersedia. Unsur rupa tersebut dapat kita buat tanpa gerak, atau dibuat dengan gerakan tertentu sesuai keinginan kita. seluruh tampilan dari program ini dapat kita atur sesuai keperluan, apakah akan berjalan sendiri sesuai timing yang kita inginkan, atau berjalan secara manual, yaitu dengan mengklik tombol mouse. dengan pembelajaran yang ditampilkan dengan menarik maka akan  terjadi interaksi antara peserta didik dengan tenaga pendidik.
Penggunaan program ini pun memiliki kelebihan sebagai berikut
a.   
28
Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi,    baik animasi teks maupun animasi gambar atau foto
b.    Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan ajar  yang tersaji.
c.     Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik.
d.   Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan.
e.    Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-uang
f.     Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD / Disket /Flashdisk), sehingga paraktis untuk di bawa ke mana-mana.  (www.Authorsteream.com 17seftember 2013
Dari paparan diatas yang  dimaksudkan untuk mendeskripsikan  hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Amlapura tahun pelajaran 2013/2014 dalam mata pelajaran Agama Islam . dengan jumlah peserta sebanyak 12 orang siswa,melalui 2 tahapan yaitu secara manual dan secara kuis. Adapun tujuan khusus pembelajaran pendidikan Agama Islam  Pada materi Iman Kepada Allah  Melalui Pemahaman Asmaul Husna  adalah:
1)   Meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran Power Point melalui program Basic learning
2)   Mengetahui kemampuan siswa belajar agama islam secara mandiri

3.3.       Program yang digunakan
Program yang penulis gunakan Power point program  Visual Basic dimana program ini mempunyai suatu kelebihan bagi seorang guru untuk membuat alat evaluasi disamping itu juga siswa mampu belajar secara mandiri karna dengan menggunakan program  ini siswa akan mampu mengukur tingkat kemampuannya, dalam program ini akan muncul hasil nilai siswa dalam mengerjakan soal tersebut dengan seperti itu siswa akan selalu termotivasi untuk selalu giat belajar untuk meningkatkan hasil belajar. Adapun program tersebut, yaitu:
MEMBUAT SCORE KUIS PADA POWERPOINT


Jika sebelumnya anda sudah pernah membuat kuis di Ms PowerPoint tanpa ada scorenya. Maka sekarang anda bisa mengeditnya kembali dan memberi nilai tertentu pada soal kuis anda.
Berikut ini langkah-langkahnya:
1.        Pastikan anda sudah memiliki Arsip soal, sehingga Anda cukup meng-copy paste saja soal tersebut ke dalam slide.
2.        Bukalah Ms Powerpoint dan buatlah Slide baru.
·       Bukalah Jendela Macro dengan menekan tombol Alt + F11 secara bersamaan.
·       Pilih menu Insert, Module dan Copy-paste lah script VB berikut:
Dim nilai As Integer
Dim konfirmasi As String
Sub mulai()
nilai = 0
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End Sub
Sub benar()
konfirmasi = MsgBox(“Yakin dengan jawaban anda?”, vbYesNo, ” Cek Jawaban!”)
If konfirmasi = vbYes Then
nilai = nilai + 1
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End If
End Sub
Sub salah()
konfirmasi = MsgBox(“Yakin dengan jawaban anda?”, vbYesNo, ” Cek Jawaban!”)
If konfirmasi = vbYes Then
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End If
End Sub
Sub jawab()
‘tombol untuk selesai
MsgBox (” skor anda adalah ” & nilai)
End Sub
·       Sesuaikan Score soal, dengan mengganti angka 1, pada Nilai=nilai+1.
·       Jika sudah, kembali-lah ke halaman Ms Powerpoint anda.
3.        Pada Slide ke-1 (digunakan untuk menampilkan Informasi tentang kuis), Ketikkan Judul Kuis / Semua Informasi tentang Kuis. Dan pada bagian bawah slide, buatlah Autoshape (tombol) dengan teks di dalamnya “Start Quiz” dengan cara:
·       Pilih menu Insert, Shape, Pilih Action Button, Custom. Buatlah bentuk Kotak.
·       Selanjutnya akan muncul kotak dialog Action Setting, Pilih  Run Macro, dan pilih “mulai” dan Klik OK.
·       Non-aktifkan Transisi, dengan menghilangkan tanda Checklist pada pilihan Transition, On mouse click. Hal ini supaya user hanya bisa menjalankan slide dengan menekan tombol “Start Quiz.
4.        Pada Slide ke-2, berisi soal kuis.
·       Setiap slide berisi 1 soal kuis.
·       Ketikkan Soal kuis yang ke-1 beserta Option-nya.
·       Masing- masing Option menempati Autoshape /TextBox yang berbeda. Jadi jika pada 1 soal terdapat 5 Option, maka harus ada Textbox / Autoshape dengan Jawaban didalamnya, sebanyak 4 atau 5 buah.
Untuk membuat Option, lakukan seperti anda membuat Tombol “START QUIZ” .
·      Ketika tampil Kotak dialog Action Setting, pilih :
o  Pilihan Benar, untuk Option Jawaban yang  BENAR
o  Pilihan Salah, untuk Option Jawaban yang SALAH
Untuk Option Jawaban Benar maka Run Macronya ke “Benar”

·       1 Soal, hanya berisi 1 jawaban benar selebihnya harus diberi action makro salah.
·       Jika sudah, Klik OK.
·       Ulangi untuk Option yang lain dengan pilihan Macro yang sesuai (BENAR/SALAH).
Untuk Option Jawaban Salah maka Run Macronya ke “Salah”

5.        Ulangi langkah 4 untuk soal kuis yang lain, pada slide berikutnya.
6.        Dan Pada Slide terakhir, digunakan sebagai Review kuis atau anda juga bisa memberi tombol “Cek Nilai” untuk melihat hasil nilai kuis (ikuti langkah 3).
·       Pada pilihan Run Macro, pilih “Jawab“
·       Klik OK.
Pada Slide Terakhir anda harus tombol “Cek Nilai” maka Run Macronya ke “jawab”

7.        Terakhir simpan file anda. Untuk PowerPoint (2007 dan 2010) simpan dengan format PPTM (PowerPoint Macro – Enabled Presentation) Selesai! Jalankan Kuis dengan menekan Tombol F5.

3.4.       Kompetensi Inti dan Kopetensi Dasar
Sesuai dengan kurikulum 2013  pembelajaran Agama Islam Tentang Iman Kepada Allah Melalui Pemahaman “ Asmaul Husna  memiliki Kopetensi Inti dan Kompetensi Dasar sebagaimana salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun 2013 memiliki steruktur Kurikulum.
Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:
1.    Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2.    Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3.    Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
4.    Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
Sesuai dengan rumusan kompetensi inti pada pembelajaran Iman kepada Allah melalui pemahamn Asmaul Husna Kopetensi Inti dan Kopetensi Dasar sebagai berikut.
A.      Kompetensi Inti
1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.      Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.      Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.       Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah   abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

B.       Kompetensi Dasar
3.5         Memahami makna Asmaul Husna: al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir;
4.3            Berperilaku yang mencontohkan keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakal dan  perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman makna Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

3.5.            Langkah langkah pembelajaran
Pertemuan 1dan2
No.
Kegiatan
Waktu
1.
Pendahuluan
a.     Membuka pembelajaran  dengan salam dan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat;
b.     Memulai pembelajaran dengan membaca al-Qur’an surah pendek pilihan dengan lancar dan benar (nama surat sesuai dengan program pembiasaan yang ditentukan sebelumnya);
c.     Memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran  dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran;
d.    Guru menyapa peserta didik dengan memperkenalkan materi kepada peserta didik.
e.     Mengajukan pertanyaan secara komunikatif berkaitan dengan tema Iman kepada Allah melalui “ Asmaul Husna”
f.     Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai;
g.     Menyampaikan tahapan kegiatan yang meliputi kegiatan mengamati, menyimak, menanya, berdiskusi,
mengkomunikasikan dengan menyampailan, menanggapi dan membuat kesimpulan hasil diskusi

20 menit
2.
Kegiatan Inti
a.    Mengamati
·      mengamati gambar  melalui tayangan media ICT/gambar
·      Menyimak penjelasan tentang  iman kepada Allah melalui “asmaul Husna “ secara klasikal maupun individual.
·      Mengamati gambar contoh Iman Kepada  Allah melalui “Asmaul Husna” secara klasikal atau individual
b.   Menanya
·      Melalui motivasi , guru mengajukan pertanyaan tentang Iman kepada Allah swt melalui “asmaul Husna “
·      Mengajukan pertanyaan terkait iman kepada Allah melalui ‘ Asmaul Husna”
c.    Eksperimen/Explore
·      Peserta didik mengemukakan isi gambar tentang Iman kepada Allah Melalui” Asmaul Husna”
·      Mengerjakan soal – soal latihan melalui kuis power poin macro enable
·      Secara berpasangan mendiskusikan isi gambar tentang iman kepada Allah
d.   Asosiasi
·      diskusi kelompok tentang iman kepada Allah  melalui “Asmaul Husna”
·      Menguhubungkan sikap  iman kepada Allah dengan sikap taat beribadah dalam kehidupan sehari-hari
e.    Komunikasi.
·      Menyampaikan hasil diskusi iman kepada Allah secara kelompok
·      Menanggapi hasil presentasi (melengkapi, mengkonfirmasi, menyanggah)
·      Membuat kesimpulan dibantu dan dibimbing guru

110 menit
3.
Penutup
·    Melaksanakan penilaian dan refleksi dengan mengajukan pertanyaan atau tanggapan peserta didik dari kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai bahan masukan untuk perbaikan langkah selanjutnya;
·    Merencanakan kegiatan tindak lanjut dengan memberikan tugas baik cara individu maupun kelompok bagi peserta didik yang menguasai materi;
·    Menyampaikan rencana pembelajaran pada per­temuan berikutnya.

1        enit

Pertemuan III (3 x 45 menit)
Pertemuan yang ketiga ini guru melanjutkan pembelajaran dengan langkah – langkah pembelajaran yang sama dengan kegiatan pembelajaran pada pertemuan  yang pertama dan kedua  penambahannya  dengan memberikan tugas mencari pernasalahan yang berkaitan iman kepada Allah melalui ”Asmaul Husna ” pada internet 

 
3.6.            Implementasi pembelajaran PAI dalam persepektif kurikukulum 2013
Berdasarkan pembelajaran yang dilakukan yang diawali dari salam,berdo’a dan tadarrus yang selanjutnya, penanaman keyakinan  pada siswa  yang terdapat pada Kompetensi Inti  tentang spiritual. Guru memberikan 3 contoh warna putih pada siswa yaitu putih pada tembok. Putih pada kertas dan putih pada susu  atau gambar orang minum susu . Selanjutnya guru menjelaskan materi pembelajaran melalui slide power point dengan menampilkan gambar gambar yang berkaitan dengan “Asmaul Husna “ yaitu Memahami Makna Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir Agar Menjadi Pribadi Terpuji.
Pada  kompetensi Inti dan kompetensi dasar selanjutnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat kliping  dan menjawab soal – soal yang ada pada slide dengan program Basic visual. Maka dengan muncul kurikulum 2013 sebagai penyempurna dari kurukulum sebelumnya  pada pembelajaran agama islam khususnya pada materi Iman kepada Allah melalu pemahaman “Asmaul Husna”  maka siswa lebih banyak mengkaji tentang konsef  konsep  tentang meyakini adanya allah Allah Swt.
Media pembelajaran power point dengan program Visual Basic  sangatlah membantu siswa  dalam belajar agama islam  terutama dalam meningkatkan hasil belajar siswa  X  pada siswa SMA Negeri 2 Amlapura Tahun Pelajaran 2013 / 2014.
BAB IV
LOKASI DAN PENILAIAN

4.1.  Lokasi dan Penilaian
A.      Lokasi
Pelaksanaan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam pada materi Iman Kepada Allah melalui pemahaman ”Asmaul Husna” siswa kelas X SMA Negeri 2 Amlapura. Dengan jumlah peserta sebanyak 12 siswa, penilaian proses belajar mengajar dilakukan dengandua jenis tiga  tahapan yaitu tahapan pertama dilakukan secara manual tahap  kedua dan tiga  menggunakan kuis power point dengan program macro enable.
Penilaian kuis power point dengan program macro enable, yang  pertama siswa mengalami peningkatan rata – rata 75% dan tahap kedua rata-rata siswa meningkat dengan memenuhi standar Ketuntasan Minimal 92%, SMA Negeri 2 Amlapura,  menyediakan berbagai macam fasilitas yang mendukung proses pendidikan, diantaranya adalah ruang belajar (kelas) yang berjumlah 24 kelas, dilengkapi dengan ruang perpustakaan, Lab Kumputer, musholla, ruang guru, ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, ruang BP, ruang UKS, ruang PAS, ruang koperasi, ruang kesenian, ruang Laboraturium, dan kamar mandi / WC.

 



42
 

B.       Penilaian

1.    Tes Manual
Uraian berikut adalah salah satu upaya untuk mendeskripsikan hasil peniaian kelas yang telah dilaksanakan. Dengan demikian  akan diketahui
Bahwa penggunaan media Power Point macro enable. dalam pembelajaran Agama Islam  materi  Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna  di SMA Negeri Amlapura dapat ditingkatkan, penilaian secara manual dilakukan guna untuk mengukur kemampuan dan antusias siswa  mengerjakan soal-soal latihan.
2.    Tes Kuis
 Tes kuis slide power point untuk pembelajaran inquiry  dalam proses belajar mengajar adalah cara penyajian pelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi. atau siswa menemukan sendiri konsep – konsep ilmu pengetahuan dengan cara melakukan percobaan. Tes kuis ini dilakukan dengan 2 tahap, hasil penilaian pada tahap pertama rata –rata ketuntasan 92% sedangkan pada tahap kedua siswa nilai siswa meningkat dengan ketuntasan seratus persen.







BAB V
PENUTUP

5.1.  Simpulan dan Saran
A.      Simpulan
Model pembelajaran inquiry dalam kegiatan proses belajar mengajar  adalah cara penyajian pelajaran yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menemukan informasi, model pembelajaran inquiry merupakan metode pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa menemukan sendiri konsep – konsep pengetahuan dengan melakukan percobaan,  Pelaksanaan  Penilaian kuis power point macro enabled  yang dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 2 Amlapura  pada pelajaran Agama islam materi ”Asmaul husna” untuk meningkatkan  hasil belajar  siswa dilaksanakan dalam 3 tahapan. Dan dari paparan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.         Pembelajaran Agama Islam  dengan model  pembelajaran inqury  yang berbantuan  power point macro enabled dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Amlapura
2.         Guru lebih mudah mmenilai hasil evaluasi
Siswa akan tetap senang mengerjakan soal – soal latihan
B.       Saran
1.        
44
Guru hendaknya lebih kreatif untuk membuat media pembelajaran sehingga suasana kelas bisa   menyenangkan;
2.         Diharapkan setiap guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar menggunakan model pembelajaran ataupun media pembelajaran  yang sesuai standar kompetensi;
3.         Dalam mengajar kelas awal khususnya kelas X harus benar-benar diperhatikan faktor individu siswa sehingga pelajaran bisa diterima dengan menyenangkan;

 
















DAFAR PUSTAKA

Sagala Saiful.2003. ( Konsef dan Makna Pembelajaran).Bandung:Alfabeta

Suhada Cucu,dkk.2009. (Konsef Sterategi Pembelajaran). Bandung:
 Pt.  Refika Aditama.

Anselm,dkk. 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik  dan          Teori Grounded).  Jakarta: Penyadur Junaidi Ghony. P T Bina Ilmu.

Arsyad, Azhar. 2002. (Media Pembelajaran). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Assidiqy, Hasbi. 1987.( Pengantar Hukum Islam). Jakarta:  Bulan Bintang.

Wahyuni Nur Esa dkk. 2008. ( Teori Belajar dan Pembelajaran). , Jogjakarta: Arruzmedia.

Hamalik Oemar. 2001.( Proses Belajar Mengajar). Bandung:  Bumi
Aksara.

Khallaf, Abdul  Wahab. 1996. (Kaidah-kaidah Hukum Islam). Jakarta:
 PT. Raja Grafindo Persada.

Muhammad dkk. 1996. (Stra tegi Belajar Mengajar). Surabaya: CV citra
Media.

Sadiman. Arief dkk. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soetomo 1993. ( Dasar-dasarInteraksi Belajar Mengajar). Surabaya: Usaha Nasional.

Soedarsono. F.X. 2001. (AplikasiPenelitian Tindakan Kelas). Departemen: Pendidikan Nasional.


Sudjana, Nana. 1989.  ( Media Pengajaran). Bandung: Sinar Baru.

            Saputro, Supriyadi. 1993 (Dasar-dasar Metodologi Pengajaran Umum).     Malang: IKIP

Wahidmurni dan Nur Ali, ( Penelitian Tindakan Kelas: Pendidikan Agama
            dan Umum dari Teori Menuju Peraktik). Malang: UM Press
           
(www.Authorsteream.com 17 September 2013         










[1] Arief Sadiman, Media Pengajaran (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan),Jakarta,  P.T Raja Grafindo Persada,  hlm. 82
[2] Muhammad dkk. 1996. Stra tegi Belajar Mengajar. Surabaya: CV citra Media. 1996, hlm. 91
[3] Terkait dengan jenis media bisa dilihat Op. Cit. Arief Sadiman, hlm. 28-47

[4] Terkait dengan jenis media bisa dilihat Op. Cit. Arief Sadiman, hlm. 28-47
[5] Ibid, hlm. 52-55
[6] Ibid, hlm. 57
[7] Nana Sudjana, Media Pengajaran,  Bandung, Sinar Baru, 1989, hlm. 4
[8] Opcit, Arief Sadiman, hlm. 16
[9] Azhar Arsad, Media Pengajaran, Jakarta, P.T. Raja Grafindo Persada,  1997, hlm. 15
[10] Djamarah.S. Strategi belajar mengajar, Jakarta: PT Rineka cipta, 2000 , hlm. 45
[11] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1990, hlm. 133
[12] Jean Piaget adalah salah satu tokoh aliran konstruktivisme dalam dunia pendidikan, ia menekaknkan bahwa perubahan kognitif kearah perkembanagn terjadi ketika konsep-konsep yang sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang diterima melalui proses ketidakseimbangan (disssequeblirium) untuk jelaslanya bisa dilihat  Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta, Arruzmedia,  2008, hlm. 117
[13] Ibid. hlm. 117-118
[14] Tedjawati, Model Pendidikan Kelas Awal di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah, Makalah, Pusat Penelitian kebijakan dan inovasi pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2008 hlm. 6-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar